Kamis, 14 Januari 2010

dEjAvU

Ini seperti dejavu buatku, seolah-olah aku pernah mengalaminya tapi entah kapan….
Begitulah wanita itu memulai ceritanya. Apa sih yang diharapkan oleh seorang wanita saat menikahi laki-laki yang dicintainya? Pastilah ia berharap mendapatkan kebahagiaan bersama suami dan anak-anaknya sampai tua. Itulah yang didapatkan Dewi selama tahun-tahun awal perkawinannya bersama Ardan, suami yang dicintainya yang seorang sarjana teknik dan bekerja di sebuah perusahaan besar dengan penghasilan yang cukup baik.

Hari-harinya dipenuhi dengan semangat untuk melayani suaminya dengan baik, menyiapkan sarapan sebelum Ardan berangkat kerja adalah kebiasaan baru yang dilakoninya, bahkan memasak yang bukan merupakan hobinya pun dia lakukan di hari-hari libur ngantornya. Kehamilan pertama yang sangat dinantikan setelah empat tahun perkawinannya melengkapi kebahagiaan mereka.

Namun takdir sepertinya berkehendak lain, menjelang waktu melahirkan tiba, tekanan darah Dewi naik drastis dan ini berbahaya bagi proses persalinannya. Terapi diterapkan dalam waktu yang sempit tapi tidak mampu membuat tekanan darahnya normal. Sementara bayi didalam kandungan seperti meronta ingin segera keluar dari rahimnya. Di saat-saat yang kritis itu Dewi pingsan tak sadarkan diri. Akhirnya terpaksa dilakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan bayi dari dalam kandungan. Bayi terlahir selamat dengan tubuh sehat, akan tetapi sang ibu masih belum sadarkan diri. Peralatan medis menempel hampir di seluruh kujur tubuh dan kepalanya. Infus, alat deteksi jantung dan tekanan darah, alat bantu pernafasan, sungguh terlihat sangat mengkhawatirkan.

Akhirnya setelah tiga hari berjuang didalam ketidaksadaran Dewi mulai sadarkan diri, kedua matanya perlahan terbuka, Ardan yang selalu setia menungguinya bergegas berdiri menghampiri begitu mendengar suara lirih Dewi. Tubuhnya seketika menghangat karena doa untuk kesembuhan istrinya selama ini akhirnya terkabul.

Pemulihan kondisi Dewi tidak secepat yang dibayangkan, karena setelah beberapa hari ternyata baru disadari bahwa kakinya tidak dapat digerakkan, otot-otot kakinya terasa lemas dan tak bertenaga. Kondisi ini berlangsung hampir dua bulan. Berkat terapi-terapi yang dijalankan perlahan-lahan kondisi Dewi makin membaik, dia mulai belajar berdiri dan berjalan.

Ardan adalah seorang laki-laki yang tergolong supel dan luas pergaulannya, dia begitu energik dan aktivitasnya begitu banyak. Selama Dewi sakit, tentu saja aktivitasnya diluar rumah banyak dikurangi. Selain membantu terapi untuk kesembuhan istrinya, dia juga harus mengasuh anaknya yang masih bayi ketika libur kantor maupun sepulang kerja.

Tiga tahun berlalu, kehidupan keluarga mereka sudah normal kembali. Dewi yang sudah pulih sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Bersama buah hatinya yang kini sudah banyak bermain, Dewi seperti mendapatkan kehidupan baru yang lebih bahagia.

Tragedi sepertinya belum mau menjauh dari kehidupan Dewi. Baru setahun sejak dia merasakan kebahagiaan yang kedua setelah dia benar-benar pulih kondisi fisiknya. Suatu sore Dewi menerima sebuah telepon yang mengabarkan bahwa Ardan, suaminya, mengalami kecelakaan di jalan raya.sepulang kerja. Segera Dewi menuju rumah sakit yang diberitahukan oleh penelepon. Sesampai di rumah sakit, didapatinya Ardan terbujur di salah satu bed di ruang gawat darurat dalam keadaan pingsan dengan alat bantu pernafasan. Terdapat banyak goresan luka di bagian tubuh dan wajahnya, sepertinya tak ada luka serius. Tapi setelah lewat satu hari Ardan terlihat masih tak sadarkan diri, dokter memindahkannya ke ICU untuk pemeriksaan lebih lanjut. Malang tak dapat dihindari, setelah satu bulan proses pemeriksaan intensif baru diketahui kalau Ardan mengalami trauma tulang belakang yang mengakibatkan dia mengalami kelumpuhan bagian bawah tubuhnya hingga kaki. Operasi tulang belakang dilakukan untuk membebaskan syaraf yang terjepit, meskipun menurut dokter kemungkinan pulih sangat kecil karena sudah terlambat penanganannya.

Empat bulan telah lewat semenjak operasi besar itu, Ardan diijinkan pulang dari rumah sakit tapi masih dilakukan perawatan di rumah. Perawat dari rumah sakit datang setiap hari untuk merawat lukanya sehabis operasi sambil melakukan terapi. Hingga tiga tahun kemudian kelumpuhannya belum juga dapat disembuhkan, pihak perusahaan memutuskan memberhentikan Ardan dengan pesangon dan mengganti semua biaya pengobatan sampai disitu.

Dewi adalah wanita yang tergolong cantik, dengan pendidikan diploma tiga teknik yang didapatnya serta pengalaman kerja sebelumnya, dicobanya untuk kembali bekerja di sebuah perusahaan konsultan setelah sempat keluar, untuk menggantikan posisi suaminya yang tidak mampu lagi bekerja. Hari-hari berlalu tanpa terasa, harapan kesembuhan untuk suaminya semakin samar, bahkan kondisi fisik Ardan makin menurun karena sering didera sakit.

Manajer Dewi, seorang pria lajang yang bersimpati atas kondisinya, banyak membantunya dalam mengatasi kesulitan-kesulitannya selama ini. Ditengah-tengah ketegarannya sebagai seorang perempuan yang menanggung hampir semua beban keluarga, tak urung Dewi sempat merasakan keletihan hidup yang dijalaninya. Perhatian demi perhatian yang diperolehnya dari Frans sang manajer, membuat hati Dewi perlahan-lahan terjerat dalam sebuah hubungan yang lebih mendalam. Pekerjaan mereka membuat kedekatan makin terjalin.

Sebagai seorang suami, Ardan samar-samar bisa merasakan perubahan yang terjadi pada Dewi. Sikap Dewi yang selalu gugup bila menerima telepon dari Frans, dandanan yang memperlihatkan ingin tampil lebih muda, juga pilihan-pilihan pakaian yang bernuansa pink, mengisyaratkan sebuah hati yang sedang kasmaran. Kebiasaan Dewi yang selalu ingin berangkat cepat-cepat saat hendak ke kantor, dan pulang sering hampir jam tujuh malam, membuat semakin renggang hubungan mereka. Pertengkaran-pertengkaran kecil mulai sering terjadi.

Usia yang sudah empat puluh tahun lebih dengan kondisi lumpuh, membuat Ardan harus bersikap lebih banyak ikhlas menerima apapun. Ia menyadari sepenuhnya bahwa Dewi masih tergolong muda, hari depannya masihlah panjang, dan Dewi masih mempunyai harapan untuk mendapatkan kebahagiaan.

Malam itu saat menjelang tidur, Ardan dengan perlahan meraih tangan Dewi yang berbaring disebelahnya, dengan lembut diremasnya jari-jari tangan istrinya itu. Dewi tak berusaha mengelak dan tetap membiarkan tangannya berpegangan. Ardan mulai membuka percakapan, “ma.., ingatkah kamu saat pertama kali kita pacaran?, saat itu mama pernah mengatakan bahwa, betapa bahagianya jika kelak mendapatkan suami yang mencintai dan membahagiakanmu sepenuh hati dan tak akan membuatmu sedih“. Mulai saat itu aku selalu berusaha membuatmu bahagia dan tak ingin sekalipun membuatmu sedih. Betapa senangnya aku saat akhirnya kamu menerima lamaranku sebagai suami, dengan janji untuk membahagiakanmu”. “Tapi kini, sepertinya aku tak akan bisa memenuhi janjiku itu”, ucap Ardan. “Sudah kupikirkan dengan baik, aku ingin melepasmu untuk menjalani kehidupan yang kau harapkan, dan tak ingin membebanimu dengan kondisiku seperti ini”.

Seolah tersekat di tenggorokan, Dewi tak dapat berkata-kata. Dia teringat kata-kata ibunya, bahwa menikah itu menyempurnakan agama, karena setelah menikah, suami istri harus belajar saling memahami dan menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dewi beringsut merapat, dipeluknya tubuh Ardan, berkali-kali diberikannya ciuman. Nafas makin memburu, detak jantung makin cepat dan tubuhpun menghangat. Gairah menyeruak menyingkap batas nafsu. Sentuhan demi sentuhan lembut menghantar ke sebuah pelampiasan yang mencapai puncaknya. Tak berapa lama tubuh mereka tergolek lemah dan tertidur dengan raut bahagia. Malam itu menjadi saksi kembalinya cinta kasih sepasang manusia.

Matahari pagi yang hangat menembus kaca jendela mengenai tubuh mereka. Burung-burung berkicau di halaman rumah membangunkan Dewi dari tidur nyenyaknya. Sejenak memutar memori semalam, sesungging senyuman menghias di bibirnya. Dia bergegas bangun beranjak dari tempat tidur menuju dapur. Dibuatnya segelas kopi kesukaan Ardan, hari ini dia ingin membuatkan masakan kesukaan suaminya itu. Dibawanya kopi ke kamar, diletakkan disamping tempat tidur, lalu dipandanginya wajah suaminya, terlihat bersih dan bahagia. Serasa ada yang berbeda, diraihnya tangan suaminya, terasa dingin, tak ada denyut nadi, perasaan Dewi menegang. Didapatinya Ardan sudah tak bernafas, jerit tangis Dewi pun tak tertahan. Tubuhnya gontai mencari pegangan, harapannya seolah melayang bersama kematian suaminya.
Sayup-sayup dari jauh terdengar lagu Mariah Carey, Hero. http://www.youtube.com/watch?v=FVhrIfaP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar