Suatu siang di hari sabtu, aku sedang duduk santai di teras rumah sambil membaca sebuah koran harian yang biasa kubeli dari tukang asong yang sering lewat. Waktu itu rumah sepi, karena istri dan anak-anakku sedang menonton perlombaan dalam rangka 17 Agustusan. Sebenarnya aku pengen menikmatinya sambil merokok, tapi karena aku sudah berniat berhenti merokok, maka untuk menggantikannya lebih baik aku memilih kegiatan yang lebih bermanfaat daripada merokok yaitu membersihkan lubang saluran penghisap udara pemberian Tuhan ini.(ngupil: mode on)
Lagi asyik-asyiknya melakukan dua aktivitas penting itu, tiba-tiba dari jauh terdengar suara gaduh orang berlari sambil berteriak ",maliing... maliiing....bangsaaat...". Seketika aku berdiri dan melangkah ke jalan untuk melihat dari mana arah teriakan tersebut berasal. Setelah celingak-celinguk sebentar, kulihat seorang bapak setengah baya tengah berlari dikejar beberapa laki-laki muda yang meneriaki bapak yang ketakutan tersebut dengan teriakan maling.
Aku beranjak hendak membantu pengejaran tapi kuputuskan untuk mengurungkannya, sebab seperti ada sesuatu yang kurang beres di wajahku. Kebetulan ada sebuah mobil yang sedang terpakir didekatku. Kudekatkan wajah ke spion, astaga... rupanya sisa pembersihan tadi masih ada yang menempel di hidungku (hi hi hi..). Setelah terlihat ganteng lagi, dengan penasaran aku bergegas menuju ke arah pengejaran tadi.
Di ujung jalan ternyata maling tadi sempat terjatuh dan tertangkap oleh pemuda-pemuda tadi, kontan maling itu digebugi beramai-ramai. Namun tiba-tiba dari sebuah pintu rumah yang terbuka, keluar seorang yang berbadan tinggi besar, berkacamata dengan kepala sedikit botak berteriak dengan lantang, " Salam super..".(kenapa aku jadi eror begini ya?, apa karena orang itu mirip bapak-bapak yang ada di tv itu).
"Berhenti..!!", teriaknya. Ternyata bapak itu adalah ketua rw disitu. Anak-anak muda itupun menghentikan kebrutalannya. "Ada apa ini?", tanya pak rw. Seorang dari pemuda itu menjawab, "dia mencuri beras ditempat saya pak, untung keburu ketahuan".
"Iya... tapi jangan dipukuli seperti ini dong..! kan kasihan dia", pinta pak rw. "Ah, biar kapok dia, biar ga berani nyuri-nyuri lagi", jawab pemuda itu lantang. "Oke-oke gini aja, kita serahkan saja dia ke kantor polisi, biar polisi yang menangani, gimana?", tanya pak rw. Akhirnya mereka sepakat membawa maling itu ke kantor polisi.
Keesokan harinya ketika aku sedang sarapan, ada kabar ditemukan seorang bocah berusia tujuh tahunan meninggal di sebuah kolong jembatan layang. Dari pembicaraan yang beredar, kudengar anak tersebut sebelumnya sakit panas dan ternyata bapaknya adalah orang yang kemaren tertangkap mencuri beras di rw sebelah. "cleb", perasaanku seperti tertusuk pisau saat itu. Aku terdiam seperti orang bodoh yang tak bisa melakukan apapun.
Sangat miris kedengarannya, seorang bapak yang mungkin karena sudah tidak punya apa-apa lagi harus digebugi dan dimasukkan penjara karena mencuri sedikit beras untuk memberi makan anaknya yang sedang sakit. Dan sekarang malah kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang tertinggal itu.
Sementara disana banyak orang kaya yang berpendidikan yang sekarang menjadi pejabat atau anggota dewan yang terhormat tidak mampu mengemban amanah dengan baik, mereka hanya mengejar kekuasaan dan hanya memperkaya diri sendiri dan golongannya semata. Sama sekali tak pernah berpihak pada orang miskin yang lemah dan tak pernah mengenyam pendidikan karena kekurangan beruntungan mereka.
"Semoga Allah membukakan hati setiap manusia agar selalu berpihak pada orang miskin yang lemah dan tak berpendidikan karena kekurang beruntungan mereka..."
We Are The World ( http://www.youtube.com/watch?v=jzw6GiqZyD0)
oleh: Michael Jackson
There comes a time
When we heed a certain call
When the world must come together as one
There are people dying
And it's time to lend a hand to life
The greatest gift of all
We can't go on
Pretending day by day
That someone, somewhere will soon make a change
We are all a part of
God's great big family
And the truth, you know love is all we need
[Chorus]
We are the world
We are the children
We are the ones who make a brighter day
So let's start giving
There's a choice we're making
We're saving our own lives
It's true we'll make a better day
Just you and me
Send them your heart
So they'll know that someone cares
And their lives will be stronger and free
As God has shown us by turning stone to bread
So we all must lend a helping hand
[Chorus]....
When you're down and out
There seems no hope at all
But if you just believe
There's no way we can fall
Well, well, well, well, let us realize
That a change will only come
When we stand together as one
Rabu, 20 Januari 2010
Sabtu, 16 Januari 2010
Iseng
Suatu malam ketika hendak tidur usai menghadiri pesta pernikahan temenku,istriku bertanya, "mas, kenapa dulu kok milih aku, kenapa enggak milih yang lain". Sejenak aku termenung dan berpikir, kalau aku bilang "karena aku mencintaimu", sepertinya kurang mengena, karena saat itu aku sudah sangat mengantuk untuk diajak bicara, nanti malah dikira bohong atau asal menjawab. Lagian aku juga bukan orang yang romantis seperti itu.
Sesaat kemudian aku teringat sebuah kata-kata, entah dari sebuah lagu atau film yang pernah aku tonton. Maka aku jawab pertanyaan istriku itu dengan kata-kata seperti yang aku ingat, "karena cinta itu tidak pernah memilih ma..., cinta itu datang tiba-tiba" jawabku sambil menahan mata agar tidak merem. Istriku diam, sepertinya mencoba menimbang apakah bener apa yang aku ucapkan itu.
Namun sebentar kemudian muncul keisenganku meneruskan jawaban dengan kata-kataku sendiri," jadi suatu saat pasti akan pergi dengan tiba-tiba juga". Spontan, "Plaak..." tangan istriku melayang ke pipiku. Sedikit keras, dan cukup panas.
Rupanya dari senyum kecil yang aku keluarkan membuat kata-kata itu, menjadi punya maksud lain, dalam pikiran istriku.
Jadilah acara tidurnya menjadi diundur.... (of the record)
Sesaat kemudian aku teringat sebuah kata-kata, entah dari sebuah lagu atau film yang pernah aku tonton. Maka aku jawab pertanyaan istriku itu dengan kata-kata seperti yang aku ingat, "karena cinta itu tidak pernah memilih ma..., cinta itu datang tiba-tiba" jawabku sambil menahan mata agar tidak merem. Istriku diam, sepertinya mencoba menimbang apakah bener apa yang aku ucapkan itu.
Namun sebentar kemudian muncul keisenganku meneruskan jawaban dengan kata-kataku sendiri," jadi suatu saat pasti akan pergi dengan tiba-tiba juga". Spontan, "Plaak..." tangan istriku melayang ke pipiku. Sedikit keras, dan cukup panas.
Rupanya dari senyum kecil yang aku keluarkan membuat kata-kata itu, menjadi punya maksud lain, dalam pikiran istriku.
Jadilah acara tidurnya menjadi diundur.... (of the record)
Kamis, 14 Januari 2010
dEjAvU
Ini seperti dejavu buatku, seolah-olah aku pernah mengalaminya tapi entah kapan….
Begitulah wanita itu memulai ceritanya. Apa sih yang diharapkan oleh seorang wanita saat menikahi laki-laki yang dicintainya? Pastilah ia berharap mendapatkan kebahagiaan bersama suami dan anak-anaknya sampai tua. Itulah yang didapatkan Dewi selama tahun-tahun awal perkawinannya bersama Ardan, suami yang dicintainya yang seorang sarjana teknik dan bekerja di sebuah perusahaan besar dengan penghasilan yang cukup baik.
Hari-harinya dipenuhi dengan semangat untuk melayani suaminya dengan baik, menyiapkan sarapan sebelum Ardan berangkat kerja adalah kebiasaan baru yang dilakoninya, bahkan memasak yang bukan merupakan hobinya pun dia lakukan di hari-hari libur ngantornya. Kehamilan pertama yang sangat dinantikan setelah empat tahun perkawinannya melengkapi kebahagiaan mereka.
Namun takdir sepertinya berkehendak lain, menjelang waktu melahirkan tiba, tekanan darah Dewi naik drastis dan ini berbahaya bagi proses persalinannya. Terapi diterapkan dalam waktu yang sempit tapi tidak mampu membuat tekanan darahnya normal. Sementara bayi didalam kandungan seperti meronta ingin segera keluar dari rahimnya. Di saat-saat yang kritis itu Dewi pingsan tak sadarkan diri. Akhirnya terpaksa dilakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan bayi dari dalam kandungan. Bayi terlahir selamat dengan tubuh sehat, akan tetapi sang ibu masih belum sadarkan diri. Peralatan medis menempel hampir di seluruh kujur tubuh dan kepalanya. Infus, alat deteksi jantung dan tekanan darah, alat bantu pernafasan, sungguh terlihat sangat mengkhawatirkan.
Akhirnya setelah tiga hari berjuang didalam ketidaksadaran Dewi mulai sadarkan diri, kedua matanya perlahan terbuka, Ardan yang selalu setia menungguinya bergegas berdiri menghampiri begitu mendengar suara lirih Dewi. Tubuhnya seketika menghangat karena doa untuk kesembuhan istrinya selama ini akhirnya terkabul.
Pemulihan kondisi Dewi tidak secepat yang dibayangkan, karena setelah beberapa hari ternyata baru disadari bahwa kakinya tidak dapat digerakkan, otot-otot kakinya terasa lemas dan tak bertenaga. Kondisi ini berlangsung hampir dua bulan. Berkat terapi-terapi yang dijalankan perlahan-lahan kondisi Dewi makin membaik, dia mulai belajar berdiri dan berjalan.
Ardan adalah seorang laki-laki yang tergolong supel dan luas pergaulannya, dia begitu energik dan aktivitasnya begitu banyak. Selama Dewi sakit, tentu saja aktivitasnya diluar rumah banyak dikurangi. Selain membantu terapi untuk kesembuhan istrinya, dia juga harus mengasuh anaknya yang masih bayi ketika libur kantor maupun sepulang kerja.
Tiga tahun berlalu, kehidupan keluarga mereka sudah normal kembali. Dewi yang sudah pulih sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Bersama buah hatinya yang kini sudah banyak bermain, Dewi seperti mendapatkan kehidupan baru yang lebih bahagia.
Tragedi sepertinya belum mau menjauh dari kehidupan Dewi. Baru setahun sejak dia merasakan kebahagiaan yang kedua setelah dia benar-benar pulih kondisi fisiknya. Suatu sore Dewi menerima sebuah telepon yang mengabarkan bahwa Ardan, suaminya, mengalami kecelakaan di jalan raya.sepulang kerja. Segera Dewi menuju rumah sakit yang diberitahukan oleh penelepon. Sesampai di rumah sakit, didapatinya Ardan terbujur di salah satu bed di ruang gawat darurat dalam keadaan pingsan dengan alat bantu pernafasan. Terdapat banyak goresan luka di bagian tubuh dan wajahnya, sepertinya tak ada luka serius. Tapi setelah lewat satu hari Ardan terlihat masih tak sadarkan diri, dokter memindahkannya ke ICU untuk pemeriksaan lebih lanjut. Malang tak dapat dihindari, setelah satu bulan proses pemeriksaan intensif baru diketahui kalau Ardan mengalami trauma tulang belakang yang mengakibatkan dia mengalami kelumpuhan bagian bawah tubuhnya hingga kaki. Operasi tulang belakang dilakukan untuk membebaskan syaraf yang terjepit, meskipun menurut dokter kemungkinan pulih sangat kecil karena sudah terlambat penanganannya.
Empat bulan telah lewat semenjak operasi besar itu, Ardan diijinkan pulang dari rumah sakit tapi masih dilakukan perawatan di rumah. Perawat dari rumah sakit datang setiap hari untuk merawat lukanya sehabis operasi sambil melakukan terapi. Hingga tiga tahun kemudian kelumpuhannya belum juga dapat disembuhkan, pihak perusahaan memutuskan memberhentikan Ardan dengan pesangon dan mengganti semua biaya pengobatan sampai disitu.
Dewi adalah wanita yang tergolong cantik, dengan pendidikan diploma tiga teknik yang didapatnya serta pengalaman kerja sebelumnya, dicobanya untuk kembali bekerja di sebuah perusahaan konsultan setelah sempat keluar, untuk menggantikan posisi suaminya yang tidak mampu lagi bekerja. Hari-hari berlalu tanpa terasa, harapan kesembuhan untuk suaminya semakin samar, bahkan kondisi fisik Ardan makin menurun karena sering didera sakit.
Manajer Dewi, seorang pria lajang yang bersimpati atas kondisinya, banyak membantunya dalam mengatasi kesulitan-kesulitannya selama ini. Ditengah-tengah ketegarannya sebagai seorang perempuan yang menanggung hampir semua beban keluarga, tak urung Dewi sempat merasakan keletihan hidup yang dijalaninya. Perhatian demi perhatian yang diperolehnya dari Frans sang manajer, membuat hati Dewi perlahan-lahan terjerat dalam sebuah hubungan yang lebih mendalam. Pekerjaan mereka membuat kedekatan makin terjalin.
Sebagai seorang suami, Ardan samar-samar bisa merasakan perubahan yang terjadi pada Dewi. Sikap Dewi yang selalu gugup bila menerima telepon dari Frans, dandanan yang memperlihatkan ingin tampil lebih muda, juga pilihan-pilihan pakaian yang bernuansa pink, mengisyaratkan sebuah hati yang sedang kasmaran. Kebiasaan Dewi yang selalu ingin berangkat cepat-cepat saat hendak ke kantor, dan pulang sering hampir jam tujuh malam, membuat semakin renggang hubungan mereka. Pertengkaran-pertengkaran kecil mulai sering terjadi.
Usia yang sudah empat puluh tahun lebih dengan kondisi lumpuh, membuat Ardan harus bersikap lebih banyak ikhlas menerima apapun. Ia menyadari sepenuhnya bahwa Dewi masih tergolong muda, hari depannya masihlah panjang, dan Dewi masih mempunyai harapan untuk mendapatkan kebahagiaan.
Malam itu saat menjelang tidur, Ardan dengan perlahan meraih tangan Dewi yang berbaring disebelahnya, dengan lembut diremasnya jari-jari tangan istrinya itu. Dewi tak berusaha mengelak dan tetap membiarkan tangannya berpegangan. Ardan mulai membuka percakapan, “ma.., ingatkah kamu saat pertama kali kita pacaran?, saat itu mama pernah mengatakan bahwa, betapa bahagianya jika kelak mendapatkan suami yang mencintai dan membahagiakanmu sepenuh hati dan tak akan membuatmu sedih“. Mulai saat itu aku selalu berusaha membuatmu bahagia dan tak ingin sekalipun membuatmu sedih. Betapa senangnya aku saat akhirnya kamu menerima lamaranku sebagai suami, dengan janji untuk membahagiakanmu”. “Tapi kini, sepertinya aku tak akan bisa memenuhi janjiku itu”, ucap Ardan. “Sudah kupikirkan dengan baik, aku ingin melepasmu untuk menjalani kehidupan yang kau harapkan, dan tak ingin membebanimu dengan kondisiku seperti ini”.
Seolah tersekat di tenggorokan, Dewi tak dapat berkata-kata. Dia teringat kata-kata ibunya, bahwa menikah itu menyempurnakan agama, karena setelah menikah, suami istri harus belajar saling memahami dan menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dewi beringsut merapat, dipeluknya tubuh Ardan, berkali-kali diberikannya ciuman. Nafas makin memburu, detak jantung makin cepat dan tubuhpun menghangat. Gairah menyeruak menyingkap batas nafsu. Sentuhan demi sentuhan lembut menghantar ke sebuah pelampiasan yang mencapai puncaknya. Tak berapa lama tubuh mereka tergolek lemah dan tertidur dengan raut bahagia. Malam itu menjadi saksi kembalinya cinta kasih sepasang manusia.
Matahari pagi yang hangat menembus kaca jendela mengenai tubuh mereka. Burung-burung berkicau di halaman rumah membangunkan Dewi dari tidur nyenyaknya. Sejenak memutar memori semalam, sesungging senyuman menghias di bibirnya. Dia bergegas bangun beranjak dari tempat tidur menuju dapur. Dibuatnya segelas kopi kesukaan Ardan, hari ini dia ingin membuatkan masakan kesukaan suaminya itu. Dibawanya kopi ke kamar, diletakkan disamping tempat tidur, lalu dipandanginya wajah suaminya, terlihat bersih dan bahagia. Serasa ada yang berbeda, diraihnya tangan suaminya, terasa dingin, tak ada denyut nadi, perasaan Dewi menegang. Didapatinya Ardan sudah tak bernafas, jerit tangis Dewi pun tak tertahan. Tubuhnya gontai mencari pegangan, harapannya seolah melayang bersama kematian suaminya.
Sayup-sayup dari jauh terdengar lagu Mariah Carey, Hero. http://www.youtube.com/watch?v=FVhrIfaP
Begitulah wanita itu memulai ceritanya. Apa sih yang diharapkan oleh seorang wanita saat menikahi laki-laki yang dicintainya? Pastilah ia berharap mendapatkan kebahagiaan bersama suami dan anak-anaknya sampai tua. Itulah yang didapatkan Dewi selama tahun-tahun awal perkawinannya bersama Ardan, suami yang dicintainya yang seorang sarjana teknik dan bekerja di sebuah perusahaan besar dengan penghasilan yang cukup baik.
Hari-harinya dipenuhi dengan semangat untuk melayani suaminya dengan baik, menyiapkan sarapan sebelum Ardan berangkat kerja adalah kebiasaan baru yang dilakoninya, bahkan memasak yang bukan merupakan hobinya pun dia lakukan di hari-hari libur ngantornya. Kehamilan pertama yang sangat dinantikan setelah empat tahun perkawinannya melengkapi kebahagiaan mereka.
Namun takdir sepertinya berkehendak lain, menjelang waktu melahirkan tiba, tekanan darah Dewi naik drastis dan ini berbahaya bagi proses persalinannya. Terapi diterapkan dalam waktu yang sempit tapi tidak mampu membuat tekanan darahnya normal. Sementara bayi didalam kandungan seperti meronta ingin segera keluar dari rahimnya. Di saat-saat yang kritis itu Dewi pingsan tak sadarkan diri. Akhirnya terpaksa dilakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan bayi dari dalam kandungan. Bayi terlahir selamat dengan tubuh sehat, akan tetapi sang ibu masih belum sadarkan diri. Peralatan medis menempel hampir di seluruh kujur tubuh dan kepalanya. Infus, alat deteksi jantung dan tekanan darah, alat bantu pernafasan, sungguh terlihat sangat mengkhawatirkan.
Akhirnya setelah tiga hari berjuang didalam ketidaksadaran Dewi mulai sadarkan diri, kedua matanya perlahan terbuka, Ardan yang selalu setia menungguinya bergegas berdiri menghampiri begitu mendengar suara lirih Dewi. Tubuhnya seketika menghangat karena doa untuk kesembuhan istrinya selama ini akhirnya terkabul.
Pemulihan kondisi Dewi tidak secepat yang dibayangkan, karena setelah beberapa hari ternyata baru disadari bahwa kakinya tidak dapat digerakkan, otot-otot kakinya terasa lemas dan tak bertenaga. Kondisi ini berlangsung hampir dua bulan. Berkat terapi-terapi yang dijalankan perlahan-lahan kondisi Dewi makin membaik, dia mulai belajar berdiri dan berjalan.
Ardan adalah seorang laki-laki yang tergolong supel dan luas pergaulannya, dia begitu energik dan aktivitasnya begitu banyak. Selama Dewi sakit, tentu saja aktivitasnya diluar rumah banyak dikurangi. Selain membantu terapi untuk kesembuhan istrinya, dia juga harus mengasuh anaknya yang masih bayi ketika libur kantor maupun sepulang kerja.
Tiga tahun berlalu, kehidupan keluarga mereka sudah normal kembali. Dewi yang sudah pulih sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Bersama buah hatinya yang kini sudah banyak bermain, Dewi seperti mendapatkan kehidupan baru yang lebih bahagia.
Tragedi sepertinya belum mau menjauh dari kehidupan Dewi. Baru setahun sejak dia merasakan kebahagiaan yang kedua setelah dia benar-benar pulih kondisi fisiknya. Suatu sore Dewi menerima sebuah telepon yang mengabarkan bahwa Ardan, suaminya, mengalami kecelakaan di jalan raya.sepulang kerja. Segera Dewi menuju rumah sakit yang diberitahukan oleh penelepon. Sesampai di rumah sakit, didapatinya Ardan terbujur di salah satu bed di ruang gawat darurat dalam keadaan pingsan dengan alat bantu pernafasan. Terdapat banyak goresan luka di bagian tubuh dan wajahnya, sepertinya tak ada luka serius. Tapi setelah lewat satu hari Ardan terlihat masih tak sadarkan diri, dokter memindahkannya ke ICU untuk pemeriksaan lebih lanjut. Malang tak dapat dihindari, setelah satu bulan proses pemeriksaan intensif baru diketahui kalau Ardan mengalami trauma tulang belakang yang mengakibatkan dia mengalami kelumpuhan bagian bawah tubuhnya hingga kaki. Operasi tulang belakang dilakukan untuk membebaskan syaraf yang terjepit, meskipun menurut dokter kemungkinan pulih sangat kecil karena sudah terlambat penanganannya.
Empat bulan telah lewat semenjak operasi besar itu, Ardan diijinkan pulang dari rumah sakit tapi masih dilakukan perawatan di rumah. Perawat dari rumah sakit datang setiap hari untuk merawat lukanya sehabis operasi sambil melakukan terapi. Hingga tiga tahun kemudian kelumpuhannya belum juga dapat disembuhkan, pihak perusahaan memutuskan memberhentikan Ardan dengan pesangon dan mengganti semua biaya pengobatan sampai disitu.
Dewi adalah wanita yang tergolong cantik, dengan pendidikan diploma tiga teknik yang didapatnya serta pengalaman kerja sebelumnya, dicobanya untuk kembali bekerja di sebuah perusahaan konsultan setelah sempat keluar, untuk menggantikan posisi suaminya yang tidak mampu lagi bekerja. Hari-hari berlalu tanpa terasa, harapan kesembuhan untuk suaminya semakin samar, bahkan kondisi fisik Ardan makin menurun karena sering didera sakit.
Manajer Dewi, seorang pria lajang yang bersimpati atas kondisinya, banyak membantunya dalam mengatasi kesulitan-kesulitannya selama ini. Ditengah-tengah ketegarannya sebagai seorang perempuan yang menanggung hampir semua beban keluarga, tak urung Dewi sempat merasakan keletihan hidup yang dijalaninya. Perhatian demi perhatian yang diperolehnya dari Frans sang manajer, membuat hati Dewi perlahan-lahan terjerat dalam sebuah hubungan yang lebih mendalam. Pekerjaan mereka membuat kedekatan makin terjalin.
Sebagai seorang suami, Ardan samar-samar bisa merasakan perubahan yang terjadi pada Dewi. Sikap Dewi yang selalu gugup bila menerima telepon dari Frans, dandanan yang memperlihatkan ingin tampil lebih muda, juga pilihan-pilihan pakaian yang bernuansa pink, mengisyaratkan sebuah hati yang sedang kasmaran. Kebiasaan Dewi yang selalu ingin berangkat cepat-cepat saat hendak ke kantor, dan pulang sering hampir jam tujuh malam, membuat semakin renggang hubungan mereka. Pertengkaran-pertengkaran kecil mulai sering terjadi.
Usia yang sudah empat puluh tahun lebih dengan kondisi lumpuh, membuat Ardan harus bersikap lebih banyak ikhlas menerima apapun. Ia menyadari sepenuhnya bahwa Dewi masih tergolong muda, hari depannya masihlah panjang, dan Dewi masih mempunyai harapan untuk mendapatkan kebahagiaan.
Malam itu saat menjelang tidur, Ardan dengan perlahan meraih tangan Dewi yang berbaring disebelahnya, dengan lembut diremasnya jari-jari tangan istrinya itu. Dewi tak berusaha mengelak dan tetap membiarkan tangannya berpegangan. Ardan mulai membuka percakapan, “ma.., ingatkah kamu saat pertama kali kita pacaran?, saat itu mama pernah mengatakan bahwa, betapa bahagianya jika kelak mendapatkan suami yang mencintai dan membahagiakanmu sepenuh hati dan tak akan membuatmu sedih“. Mulai saat itu aku selalu berusaha membuatmu bahagia dan tak ingin sekalipun membuatmu sedih. Betapa senangnya aku saat akhirnya kamu menerima lamaranku sebagai suami, dengan janji untuk membahagiakanmu”. “Tapi kini, sepertinya aku tak akan bisa memenuhi janjiku itu”, ucap Ardan. “Sudah kupikirkan dengan baik, aku ingin melepasmu untuk menjalani kehidupan yang kau harapkan, dan tak ingin membebanimu dengan kondisiku seperti ini”.
Seolah tersekat di tenggorokan, Dewi tak dapat berkata-kata. Dia teringat kata-kata ibunya, bahwa menikah itu menyempurnakan agama, karena setelah menikah, suami istri harus belajar saling memahami dan menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dewi beringsut merapat, dipeluknya tubuh Ardan, berkali-kali diberikannya ciuman. Nafas makin memburu, detak jantung makin cepat dan tubuhpun menghangat. Gairah menyeruak menyingkap batas nafsu. Sentuhan demi sentuhan lembut menghantar ke sebuah pelampiasan yang mencapai puncaknya. Tak berapa lama tubuh mereka tergolek lemah dan tertidur dengan raut bahagia. Malam itu menjadi saksi kembalinya cinta kasih sepasang manusia.
Matahari pagi yang hangat menembus kaca jendela mengenai tubuh mereka. Burung-burung berkicau di halaman rumah membangunkan Dewi dari tidur nyenyaknya. Sejenak memutar memori semalam, sesungging senyuman menghias di bibirnya. Dia bergegas bangun beranjak dari tempat tidur menuju dapur. Dibuatnya segelas kopi kesukaan Ardan, hari ini dia ingin membuatkan masakan kesukaan suaminya itu. Dibawanya kopi ke kamar, diletakkan disamping tempat tidur, lalu dipandanginya wajah suaminya, terlihat bersih dan bahagia. Serasa ada yang berbeda, diraihnya tangan suaminya, terasa dingin, tak ada denyut nadi, perasaan Dewi menegang. Didapatinya Ardan sudah tak bernafas, jerit tangis Dewi pun tak tertahan. Tubuhnya gontai mencari pegangan, harapannya seolah melayang bersama kematian suaminya.
Sayup-sayup dari jauh terdengar lagu Mariah Carey, Hero. http://www.youtube.com/watch?v=FVhrIfaP
Rabu, 13 Januari 2010
pAhiT raSanyA... tApi maNis uTk diKenaNg
Sore itu aku ngobrol bareng adikku, yang tinggal di Bandung untuk sementara karena sedang menyelesaikan kuliah S2nya. Awalnya kami berbincang masalah kesulitannya saat memulai pembuatan thesisnya, dari mulai pemilihan tema,metoda penelitian, sampai teknis pengambilan sampelnya nanti. maklum dana yang tersedia untuk penelitian sangat terbatas. Dari situ obrolan berpindah ke masa kuliah kami dulu, bagaimana saat-saat berat sama-sama kami lalui.
Saat itu empat orang termasuk aku sedang menjalani kuliah. Teringat ketika aku harus nyambi ngajar les privat agar bisa tetap kuliah di Bandung, sering harus makan sehari sekali agar cukup sampai saat mendapatkan uang kembali, atau sehari cuma makan sebungkus roti isi kelapa kopyor karena uang terakhir tidak cukup untuk beli nasi dan lauk, dan berharap esok pagi mendapatkan uang yang ditunggu.
Adikku juga mengalami hal yang serupa di Surabaya, pernah suatu saat uang yang terakhir hanya cukup untuk makan hari itu, tapi dia memutuskan tidak makan dan memilih untuk membayar ongkos bis pulang ke Karanganyar, dan mencoba merenungkan kembali apakah kuliahnya akan sanggup ia teruskan. Bahkan ia sempat cuti kuliah satu semester.
Buat kakakku yang kuliah di Jokja sepertinya juga ga jauh berbeda, dia harus sering pulang balik ke Karanganyar untuk membantu mbak Yayuk yang saat itu menjadi tulang punggung kami. Sering harus berhutang sekedar 25 ribu atau 30 ribu ke tetangga agar kami bisa berangkat ke perantauan kembali untuk meraih cita.
Tapi sekarang setelah lebih dari sepuluh tahun berlalu, setelah kami masing-masing memiliki anak, menjadi kenangan manis tersendiri yang bisa kami ceritakan kepada anak-anak kami. Dan menjadi motivasi bagi kami untuk selalu berusaha mendukung mereka dalam meraih cita-cita.
Ya Allah, berikanlah selalu kekuatan untuk mampu melalui segala kepahitan hidup ini, dan tetap di jalanmu, agar dapat ku nikmati kenangan manis di akhirat nanti, amin.
Saat itu empat orang termasuk aku sedang menjalani kuliah. Teringat ketika aku harus nyambi ngajar les privat agar bisa tetap kuliah di Bandung, sering harus makan sehari sekali agar cukup sampai saat mendapatkan uang kembali, atau sehari cuma makan sebungkus roti isi kelapa kopyor karena uang terakhir tidak cukup untuk beli nasi dan lauk, dan berharap esok pagi mendapatkan uang yang ditunggu.
Adikku juga mengalami hal yang serupa di Surabaya, pernah suatu saat uang yang terakhir hanya cukup untuk makan hari itu, tapi dia memutuskan tidak makan dan memilih untuk membayar ongkos bis pulang ke Karanganyar, dan mencoba merenungkan kembali apakah kuliahnya akan sanggup ia teruskan. Bahkan ia sempat cuti kuliah satu semester.
Buat kakakku yang kuliah di Jokja sepertinya juga ga jauh berbeda, dia harus sering pulang balik ke Karanganyar untuk membantu mbak Yayuk yang saat itu menjadi tulang punggung kami. Sering harus berhutang sekedar 25 ribu atau 30 ribu ke tetangga agar kami bisa berangkat ke perantauan kembali untuk meraih cita.
Tapi sekarang setelah lebih dari sepuluh tahun berlalu, setelah kami masing-masing memiliki anak, menjadi kenangan manis tersendiri yang bisa kami ceritakan kepada anak-anak kami. Dan menjadi motivasi bagi kami untuk selalu berusaha mendukung mereka dalam meraih cita-cita.
Ya Allah, berikanlah selalu kekuatan untuk mampu melalui segala kepahitan hidup ini, dan tetap di jalanmu, agar dapat ku nikmati kenangan manis di akhirat nanti, amin.
my facebook
Teringat saat suatu hari kedatengan Boy (seorang sobat). Karena lama ga ketemu maka yg ditanyain pastilah kabar. Dia nanyain detail kondisiku dan keluargaku sejak kejadian 10th lalu itu."Ya seperti inilah kondisi kami sekarang" jawabku. Tidak kurang tapi juga tidak lebih, cukuplah buat kami. Kesedihan memang bagian dari kehidupan kami, tapi kami tak mau menyimpannya lama-lama. Itu akhir dari jawaban pertanyaan2 yang diajukan oleh sobatku itu.
Giliran aku yang pengen tahu kabarnya. Ia menceritakan dengan singkat, tapi kemudian seraya tersenyum dia bertanya kepadaku, "min, ingat si dewi nggak ? " hhhhHa ha ha...yo ingat to, mantan kamu kan?". Aku inget mereka dulu pasangan yang hangat dan serasi, lama mereka berpacaran tapi akhirnya putus karena sebuah perbedaan.
"Dia datang lagi men" katanya sembari tersenyum tipis. "Maksud lo?", ujarku.
Boy menceritakan kisah pertemuannya yang terakhir dengan Dewi baru-baru ini. Bagaimana senangnya Dewi saat itu, pandangan dan sikapnya masih memendam cinta seperti waktu masih pacaran dulu. Dewi bilang ia sudah 4 tahun menjanda karena suaminya meninggal dunia karena penyakit jantung, dan kini ia tinggal dengan seorang anaknya. Dewi mengisyaratkan keinginannya untuk kembali merajut kasih. Terus terang Boy terharu dengan kisah Dewi dan sedikit bimbang atas sikapnya tersebut.
Aku tanya sama Boy bagaimana dia bisa bertemu, kan mereka tinggal berlainan kota. Boy bercerita kalau mula-mula dia di add sama Dewi di jejaring sosial facebook, setelah pertemuan pertama di fb itu mereka sering saling kirim message. Dan pertemuan kemaren itu adalah untuk yang kedua kalinya.
Ah, aku nggak mau kasih masukan buat dia karena masalah seperti itu terlalu rumit bagiku. Meskipun aku berteman dengan Dewi juga, tapi aku ga bisa begitu saja mendukung mereka untuk bersatu kembali. Bagaimanapun Boy udah punya keluarga yang harus dijaganya. Dan aku tau mereka saling menyayangi dan mempunyai tiga orang buah hati. Boy mengiyakan dan dia juga ngga ingin menyakiti istri dan keluarganya.
Huuuft......... aku menghela nafas, ini benar-benar mengingatkanku pada lagunya Gigi 'my facebook' yang asyik itu.
my facebook (http://www.youtube.com/watch?v=ivoQDy6qCSs)
Berawal dari facebook baruku
Kau datang dengan cara tiba-tiba
Bekas kekasih yang lama hilang
Satu dari kekasih yang terbaik
Mungkin waktu yang ku persalahkan
Mungkin saja keadaan yang salah
Terpikir hati untuk mendua
Tapi nurani tak bisa mendua
*
Ku hanya bisa membagi kisah-kisah lama
Ku hanya bisa membagi cerita nostalgia
Reff:
Cuma itu yang kuberikan
Cuma itu yang ku bisa persembahkan
Karna aku ada yang punya
Tapi separuh hati ini untukmu
Ku bisa saja putuskan dia
Ku bisa menutup semua cintaku
Tapi apakah kau pun setuju
Menyakiti seorang manusia
Giliran aku yang pengen tahu kabarnya. Ia menceritakan dengan singkat, tapi kemudian seraya tersenyum dia bertanya kepadaku, "min, ingat si dewi nggak ? " hhhhHa ha ha...yo ingat to, mantan kamu kan?". Aku inget mereka dulu pasangan yang hangat dan serasi, lama mereka berpacaran tapi akhirnya putus karena sebuah perbedaan.
"Dia datang lagi men" katanya sembari tersenyum tipis. "Maksud lo?", ujarku.
Boy menceritakan kisah pertemuannya yang terakhir dengan Dewi baru-baru ini. Bagaimana senangnya Dewi saat itu, pandangan dan sikapnya masih memendam cinta seperti waktu masih pacaran dulu. Dewi bilang ia sudah 4 tahun menjanda karena suaminya meninggal dunia karena penyakit jantung, dan kini ia tinggal dengan seorang anaknya. Dewi mengisyaratkan keinginannya untuk kembali merajut kasih. Terus terang Boy terharu dengan kisah Dewi dan sedikit bimbang atas sikapnya tersebut.
Aku tanya sama Boy bagaimana dia bisa bertemu, kan mereka tinggal berlainan kota. Boy bercerita kalau mula-mula dia di add sama Dewi di jejaring sosial facebook, setelah pertemuan pertama di fb itu mereka sering saling kirim message. Dan pertemuan kemaren itu adalah untuk yang kedua kalinya.
Ah, aku nggak mau kasih masukan buat dia karena masalah seperti itu terlalu rumit bagiku. Meskipun aku berteman dengan Dewi juga, tapi aku ga bisa begitu saja mendukung mereka untuk bersatu kembali. Bagaimanapun Boy udah punya keluarga yang harus dijaganya. Dan aku tau mereka saling menyayangi dan mempunyai tiga orang buah hati. Boy mengiyakan dan dia juga ngga ingin menyakiti istri dan keluarganya.
Huuuft......... aku menghela nafas, ini benar-benar mengingatkanku pada lagunya Gigi 'my facebook' yang asyik itu.
my facebook (http://www.youtube.com/watch?v=ivoQDy6qCSs)
Berawal dari facebook baruku
Kau datang dengan cara tiba-tiba
Bekas kekasih yang lama hilang
Satu dari kekasih yang terbaik
Mungkin waktu yang ku persalahkan
Mungkin saja keadaan yang salah
Terpikir hati untuk mendua
Tapi nurani tak bisa mendua
*
Ku hanya bisa membagi kisah-kisah lama
Ku hanya bisa membagi cerita nostalgia
Reff:
Cuma itu yang kuberikan
Cuma itu yang ku bisa persembahkan
Karna aku ada yang punya
Tapi separuh hati ini untukmu
Ku bisa saja putuskan dia
Ku bisa menutup semua cintaku
Tapi apakah kau pun setuju
Menyakiti seorang manusia
Langganan:
Postingan (Atom)
