Pagi itu sekitar pukul 8 , aku sedang menyapu lantai tokoku. Kebetulan saat itu liburan kuliah semester satu dan aku kebagian menggantikan tugas kakakku menjaga kios foto copy milik kami. Saat hendak memasukkan sampah debu ke dalam pengki, tiba-tiba seseorang mendekatiku. Aku tatap sejenak sosok tubuh itu. Di dahinya mengucur keringat mengalir hingga leher, wajahnya terlihat pucat pias, bibirnya bergetar keras seperti menahan rasa sakit yang teramat sangat.
Dia menegurku lemah "mas Min ?! " . "Eh Gog ono opo? " kujawab dengan nada khawatir. Bibir nya makin bergetar dan terlihat kebingungan dari matanya. "Aku luwe, durung mangan..." katanya pelan. Langsung terlintas dalam benakku, aku pernah menahan lapar hingga terasa tubuhku sangat lemas, tapi ini sepertinya lebih hebat dari yang pernah kurasakan.
"Sedelo Gog " ku jawab sambil terus membalikkan badan dan berjalan menuju meja berlaci di dalam kios. Kulihat di dalam laci penuh logam limapuluh rupiah dan seratus rupiah, dan hanya beberapa puluh lembar uang ribuan sisa omset kemaren yang sudah diambil untuk belanja dan keperluan sehari-hari. Ku ambil tiga lembar uang ribuan dan bergegas menghampiri Begog yang sedang berjongkok di depan pintu kiosku. Sepertinya kakinya sudah tidak kuat menopang tubuhnya. "iki Gog, nggonen mangan." sambil kuulurkan tanganku yang memegang uang ke arahnya. "Matur nuwun yo mas" kata dia sambil memegangi tanganku, basah telapak tangannya menempel di lenganku. "Podo-podo, wis ndang mangan sik". Dia membalikkan badannya hendak pergi, tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Lha bojo karo anakmu piye?", tanyaku, dia terdiam.
"Sik-sik" kataku sambil membalikkan badan dan setengah berlari masuk ke dalam rumah. Aku menuju meja makan bundar putih di ruang makan, lalu kubuka penutup makanan diatas meja. Disitu hanya ada beberapa potong tempe goreng sisa kemaren dan sedikit sambel terasi. Kututup lagi dan langsung berlari menuju dapur di belakang rumah. Kulihat ibuku sedang memotong-motong sayuran sambil duduk di kursi kecil. Di atas kompor kulihat panci nasi berisi beras yang sedang dimasak. Kutanyakan pada ibu apakah nasi sudah matang. Ibu menjawab "durung". Aku sempet menceritakan sedikit tentang maksudku memberi makan Begog, dan ibuku menjawab " lha piye, durung do mateng ki le". "nggih empun", balasku setengah berlari menuju rumah lagi. Ku ambil tempe di atas piring, kubawa ke depan rumah. Tapi tak terlihat Begog di situ. Setelah meletakkan piring tempe diatas meja etalase, aku menuju trotar di depan kios mencoba menemukan sosok Begog di sepanjang jalan. Namun saat itu datang seorang pelanggan masuk ke dalam kios, aku hentikan pencarianku dan melayani pelangganku dulu. Beberapa pelanggan datang kemudian. Setelah selesai melayani semua, ku tengok jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Aku mencoba mencarinya kembali, menyeberang jalan dan melongok ke dalam warung soto lek Blowok, tak kutemukan Begog disana. Kembali ke toko aku duduk di depan mesin foto copy yang sudah tua. Terdengar perutku yang kosong mengeluarkan suara. Kuraih sepotong tempe diatas etalase, kugigit sedikit demi sedikit. Sambil termenung terlintas dalam pikiranku, masih beruntung aku bisa makan tempe goreng sisa kemaren saat aku belum begitu merasa lapar.
Bandung, Awal November 2009